Peran Pengelola Perguruan Tinggi Mencerdaskan Bangsa

Praktik Project Based Learning Belum Matang

PNP News. Peran pengelola lembaga pendidikan itu mencerdaskan kehidupan bangsa atau menipu bangsa? Dalam temuan Asesor Direktorat Jenderal Vokasi, ada saja perguruan tinggi yang tidak pernah menerima mahasiswa baru tapi wisudanya rutin tiap bulan. Ada pula perguruan tinggi yang awalnya mengaku memiliki 50 orang mahasiswa, namun beberapa bulan berikutnya sudah menjadi ratusan. Artinya, ada kasus mahasiswa naik di jalan, tidak melalui proses.

Hal itu diungkapkan Surya Fadjar Boediman, S.S.T., M.M.Par., dari Sekolah Tinggi Pariwisata dalam pembukaan Surveilen Asesmen Lapangan di Kampus Politeknik Negeri Padang, 5 Agustus 2022.

Diakui Surya Fadjar, para rektor lebih takut didatangi asesor daripada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Jika diperiksa BPK, pengelola perguruan tinggi masih punya waktu untuk memperbaiki kesalahan atau uang yang ditarik bisa kembali, namun jika asesor mendapatkan temuan, itu bisa berimbas pada hidup mati program studi, tekannya.

Di sisi lain, ia juga mengimbau pengelola perguruan tinggi untuk tidak takut dalam menjalani surveylen karena surveylen bukanlah proses akreditasi, jadi suasananya tak perlu dibikin mencekam, katanya setengah berseloroh.

Pada prinsipnya surveilans lapangan adalah pengawasan dan monitoring yang dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas lembaga pendidikan. Kebetulan pada saat itu, surveilans lapangan dilakukan untuk Program D3 Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Padang yang hendak ditingkatkan menjadi D4. Surveilans dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas institusi Politeknik Negeri Padang melalui asesmen lapangan. Tugas utama asesor fokus pada ditindaklanjuti atau tidaknya rekomendasi pada penilaian akreditasi yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Dengan kata lain, asesmen lapangan tersebut mencocokan rekomendasi dengan upaya tindak lanjut dan bukti nyata.

Lebih jauh dikatakan, tranformasi D3 ke D4 adalah program prioritas Kementerian tapi tidak serta merta pengusulan program itu langsung diterima. Dalam notifikasi ada perintah segera diperbaiki. Oleh karena itu, perguruan tinggi yang menjalani surveilans harus melakukan perbaikan dulu dalam tempo 2 bulan dan dokumen bisa hilang dalam sistem jika instruksi itu tak dipenuhi. Semua itu diberlakukan agar mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat tidak dirugikan.

Direktur Politeknik Negeri Padang yang diwakili oleh Wakil Direktur 2, Anton, S.T., M.T. dalam sambutannya menyatakan, surveilans tersebut diharapkan mampu memotivasi institusi pendidikan, dalam hal ini D3 Program Studi Usaha Perjalanan Wisata untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kualitas layanan serta kualitas lulusan. Anton juga berharap di masa mendatang Jurusan Administrasi Niaga segera dapat membuka sekolah profesi serta berkiprah secara internasional.

Praktik Project Based Learning Belum Matang

Dalam kegiatan yang sama, Drs. Maman Lukman Supardi, M.Pd. yang diakrabi yuniornya sebagai “Abah” menilai kebanyakan mata kuliah Project Based Learning dari perguruan tinggi yang tengah diasesnya belum disiapkan secara matang.

Penyebab belum berhasilnya penerapan model pembelajaran berbasis proyek adalah keterbatasan atau tidak tersedianya dosen yang mampu memahami dan menerapkan model tersebut dalam pembelajaran; dan tidak tersedia dan tidak sesuainya pemilihan modul dengan karakteristik materi yang diajarkan.

Modul yang dimaksud adalah dokumen yang berisi tujuan, langkah, media pembelajaran dan asesmen yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu projek. PBL bisa dikatakan berhasil jika peserta didik mendapatkan motivasi yang tinggi, aktif dalam perkuliahan, dan menghasilkan hasil kerja berkualitas tinggi.

Para dosen harus selalu ingat, project based learning adalah model pembelajaran berupa tugas nyata seperti kerja proyek, dikerjakan berkelompok dan mendalam untuk mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna, pungkas Abah.

Sumber:pnp.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.